Jakarta, di mata orang asing… sangat mengenaskan…
Jakarta: In Need of Improvements
Andre Vitchek
Worldpress.org contributing editor
July 26, 2007
Today, high-rises dot the skyline, hundreds of thousands of vehicles
belch fumes on congested traffic arteries and super-malls have become
the cultural centers of gravity in Jakarta, the fourth largest city in
the world. In between towering super-structures, humble kampongs house
the majority of the city dwellers, who often have no access to basic
sanitation, running water or waste management.
Pada saat ini, gedung pencakar langit, jalanan
macet dipadati oleh ratusan ribu kendaraan, dan mal-mal raksasa telah
menjadi pusat kebudayaan Jakarta , yang notabene merupakan kota
terbesar ke-4 di dunia. Terjepit diantara gedung tinggi, terhampar
perkampungan dimana bermukim sebagian besar penduduk Jakarta yang tidak
memiliki akses sanitasi dasar, air bersih atau pengelolaan limbah.
While almost all major capitals in the Southeast Asian region are
investing heavily in public transportation, parks, playgrounds,
sidewalks and cultural institutions like museums, concert halls and
convention centers, Jakarta remains brutally and determinately
‘pro-market’ profit-driven and openly indifferent to the plight of a
majority of its citizens who are poor.
Disaat hampir semua kota-kota utama lain di Asia
Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk tr ansportasi
publik, taman kota, taman bermain, trotoar besar, dan lembaga
kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta
tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK
PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN.
Most Jakartans have never left Indonesia, so they cannot compare their
capital with Kuala Lumpur or Singapore; with Hanoi or Bangkok .
Comparative statistics and reports hardly make it into the local media.
Despite the fact that the Indonesian capital is for many foreign
visitors a ‘hell on earth,’ the local media describes Jakarta as
"modern," "cosmopolitan," and "a sprawling metropolis."
Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke
luar negeri, sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta
dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok . Liputan dan
statistik pembanding juga jarang ditampilkan oleh media massa setempat.
Meskipun bagi para wisatawan asing Jakarta merupakan NERAKA DUNIA,
media massa setempat menggambarkan Jakarta sebagai kota "modern",
"kosmopolitan" , dan "metropolis" .
Newcomers are often puzzled by Jakarta’s lack of public amenities.
Bangkok, not exactly known as a user-friendly city, still has several
beautiful parks. Even cash-strapped Port Moresby, capital of Papua New
Guinea, boasts wide promenades, playgrounds, long stretches of beach
and sea walks. Singapore and Kuala Lumpur compete with each other in
building wide sidewalks, green areas as well as cultural
establishments. Manila, another city without a glowing reputation for
its public amenities, has succeeded in constructing an impressive sea
promenade dotted with countless cafes and entertainment venues while
preserving its World Heritage Site at In tramuros. Hanoi repaved its
wide sidewalks and turned a park around Huan-Kiem Lake into an open-air
sculpture museum.
Para pendatang/wisatawan seringkali
terheran-heran dengan kondisi Jakarta yang tidak memiliki taman
rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal sebagai kota yang ramah
publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan. Bahkan, Port
Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman bermain
yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah.
But in Jakarta, there is a fee for everything. Many green spaces have
been converted to golf courses for the exclusive use of the rich. The
approximately one square kilometer of Monas seems to be the only real
public area in a city of more than 10 million. Despite being a maritime
city, Jakarta has been separated from the sea, with the only focal
point being Ancol, with a tiny, mostly decrepit walkway along the dirty
beach dotted with private businesses.
Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu.
Banyak lahan hijau diubah menjadi lapangan golf demi kepentingan orang
kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi
merupakan satu-satunya kawasan publik di kota berpenduduk lebih dari 10
juta ini. Meskipun menyandang predikat kota maritim, Jakarta telah
terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunya lokasi rekreasi
yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.
Even to take a walk in Ancol, a family of four has to spend
approximately $4.50 (40,000 Indonesian Rupiahs) in entrance fees,
something unthinkable anywhere else in the world. The few tiny public
parks which survived privatization are in desperate condition and
mostly unsafe to use.
Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu
keluarga dengan 4 orang anggota keluarga harus mengeluarkan uang Rp
40.000 untuk tiket masuk, satu hal yang tak masuk akal di belahan lain
dunia. Beberapa taman publik kecil kondisinya menyedihkan dan tidak
aman.
There are no sidewalks in the entire city, if one applies international
standards to the word "sidewalk." Almost anywhere in the world (with
the striking exception of some cities in the United State, like Houston
and Los Angeles) the cities themselves belong to pedestrians. Cars are
increasingly discouraged from travelling in the city centres. Wide
sidewalks are understood to be the most ecological, healthy and
efficient forms of short-distance public transportation in areas with
high concentrations of people.
Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di
seluruh penjuru kota (tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai
dengan standar "internasional" ). Nyaris seluruh kota-kota di dunia
(kecuali beberapa kota di AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap
pejalan kaki. Mobil seringkali tidak diperkenankan berkeliaran di pusat
kota . Trotoar yang lebar merupakan sarana transportasi publik jarak
pendek yang paling efisien, sehat, dan ramah lingkungan di daerah yang
padat penduduk.
In Jakarta, there are hardly any benches for people to sit and relax,
and no free drinking water fountains or public toilets. It is these
small, but important, ‘details’ that are symbols of urban life anywhere
else in the world.
Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk
duduk dan rileks, tidak ada keran air minum gratis atau toilet umum.
Ini memang remeh, tapi sangat penting, merupakan suatu detil yang
menjadi simbol kehidupan perkotaan di bagian lain dunia.
Most world cities, including those in the region, want to be visited
and remembered for their culture. Singapore is managing to change its
’shop-till-you- drop’ image to that of the centre of Southeast Asian
arts. The monumental Esplanade Theatre has reshaped the skyline,
offering first-rate international concerts in classical music, opera,
ballet, and also featuring performances from some of the leading
contemporary artists from the region. Many performances are subsidized
and are either free or cheap, relative to the high incomes in the
city-state.
Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi
dan dikenang akan kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah
citra kota belanjanya menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade
Theatre yang monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia
menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas
satu, disamping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak
pertunjukan yang disubsidi dan seringkali gratis atau murah, bila
dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi.
Kuala Lumpur spent $100 million on its philharmonic concert hall, which
is located right under the Petronas Towers , among the tallest
buildings in the world. This impressive and prestigious concert hall
hosts local orches tr a companies as well top international performers.
The city is currently spending further millions to refurbish its
museums and galleries, from the National Museum to the National Art
Gallery .
Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk
membangun balai konser philharmonic yang terletak persis dibawah Pe tr
onas Tower , salah satu gedung tertinggi di dunia. Balai konser
prestisius dan impresif ini mempertunjukkan grup orkes tr a lokal dan
internasional. Kuala Lumpur juga sedang menginvestasikan beberapa juta
dolar untuk memugar museum dan galeri, dari Museum Nasional hingga
Galeri Seni Nasional.
Hanoi is proud of its culture and arts, which are promoted as its major
at tr action millions of visitors flock into the city to visit
countless galleries stocked with canvases, which can be easily
described as some of the best in Southeast Asia. Its beautifully
restored Opera House regularly offers Western and Asian music treats.
Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang
dipromosikan guna menarik jutaan turis untuk mengunjungi galeri-galeri
lukisan yang tak terhitung jumlahnya, dimana lukisan tersebut merupakan
salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Gedung Operanya yang dipugar
secara reguler mempertunjukkan pagelaran musik Asia dan Barat.
Bangkok’s colossal temples and palaces coexist with ex tr emely
cosmopolitan fare international theater and film festivals, countless
performances, jazz clubs with local and foreign artists on the bill, as
well as authentic culinary delights from all corners of the world. When
it comes to music, live performances and nightlife, there is no city in
Southeast Asia as vibrant as Manila .
Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan
teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung
jumlahnya, dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia.
Kalau bicara musik dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara
yang semeriah Manila.
Now back to Jakarta. Those who have ever visited the city’s ‘public
libraries’ or National Archives building will know the difference. No
wonder; in Indonesia education, culture and arts are not considered to
be ‘profitable’ (with the exception of pop music), and are therefore
made absolutely irrelevant. The country spends the third lowest amount
in the world on education (according to The Economist, only1.2 percent
of its GDP) after Equatorial Guinea and Ecuador (there the situation is
now rapidly improving with the new progressive government).
Nah, sekarang balik ke Jakarta . Siapapun yang
bernah berkunjung ke "perpustakaan umum" atau gedung Arsip Nasional
pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan
seni tidak dianggap "menguntungkan" (kecuali musik pop), sehingga
menjadi tidak relevan. Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN
PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 di dunia - ya ampyun….(pent.) - (menurut
The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan
Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang berkembang cepat
berkat pemerintahan baru yang progresif)
Museums in Jakarta are in appalling condition, offering absolutely no
important international exhibitions. They look like they fell on the
city from a different era and no wonder the Dutch built almost all of
them. Not only are their collections poorly kept, but they lack
elements of modernity there are no elegant cafes, museum shops,
bookstores or even public archives. It appears that the individuals
running them are without vision and creativity. However, even if they
did have inspired ideas, there would be no funding to carry them out.
Museum di Jakarta berada dalam kondisi
memprihatinkan, sama sekali tidak menawarkan eksibisi internasional.
Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak
heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya. Tidak hanya koleksinya
yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur modern seperti kafe,
toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik. Kelihatannya
manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan, meskipun
mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan
ketiadaan dana.
It seems that Jakarta has no city planners, only private developers
that have no respect for the majority of its inhabitants who are poor
(the great majority, no matter what the understated and manipulated
government statistics say). The city abandoned itself to the private
sector, which now controls almost everything, from residential housing
to what were once public areas.
Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota,
hanya ada pengembang swasta yang tidak punya respek atau kepedulian
akan mayoritas penduduk yang miskin (mayoritas besar, tak peduli apa
yang dikatakan oleh data statistik yang seringkali DIMANIPULIR
pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinya ke sektor swasta,
yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga
ke area publik.
While Singapore decades ago, and Kuala Lumpur recently, managed to
fully eradicate poor, unsanitary and depressing kampongs from their
urban areas, Jakarta is unable or unwilling to offer its citizens
subsidized, affordable housing equipped with running water,
electricity, a sewage system, wastewater tr eatment facilities,
playgrounds, parks, sidewalks and a mass public transportation system.
Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura,
dan baru-baru ini di Kualalumpur, mereka berhasil menghilangkan total
perkampungan kumuh dari wilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau
tidak mau memberikan warganya perumahan bersubsidi dengan harga
terjangkau yang dilengkapi dengan air ledeng, lis tr ik, sistem
pembuangan limbah, taman bermain, tr otoar dan sistem tr ansportasi
massal.
Rich Singapore aside, Kuala Lumpur with only 2 million inhabitants
boasts one metroline (Putra Line), one monorail, several efficient Star
LRT lines, suburban tr ain links and high-speed rail system connecting
the city with its new capital Putrajaya. The "Rapid" system counts on
hundreds of modern, clean and air-conditioned buses. Transit is
subsidized; a bus ticket on "Rapid" costs only $.60 (2 Malaysian
Ringgits) for unlimited day use on the same line. Heavily discounted
daily and monthly passes are also available.
Selain Singapura, Kualalumpur dengan berpenduduk
hanya 2 juta jiwa memiliki satu jalur Me tr o (Pu tr a Line), satu
monorail, beberapa jalur LRT Star yang efisien, dan jaringan keretaapi
kecepatan tinggi yang menghubungkan kota dengan ibu kota baru Pu tr
ajaya. Sistem "RApid" memiliki ratusan bus modern, bersih, dan ber-AC.
Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2 Ringgit
(kuranglebih Rp 4600) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang hari di
jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah
juga tersedia.
Bangkok contracted German firm Siemens to build two long "Sky Train"
lines and one me tr o line. It is also utilizing its river and channels
as both public transportation and as a tourist attraction. Despite this
enormous progress, the Bangkok city administration claims that it is
building an additional 50 miles (80 kilometers) of tracks for these
systems in order to convince citizens to leave their cars at home and
use public transportation. Polluting pre-historic buses are being
banned from Hanoi, Singapore , Kuala Lumpur and gradually from Bangkok.
Jakarta, thanks to corruption and phlegmatic officials, is in its own
league even in this field.
Bangkok menunjuk kontraktor Siemens dari Jerman
untuk membangun 2 jalur panjang "Sky Train" dan satu jalur me tr o.
Bangkok juga memanfaatkan sungai dan kanal sebagai tr ansportasi publik
dan objek wisata. Pemerintahan kota Bangkok juga mengklaim bahwa mereka
sedang membangun jalur tambahan sepanjang 80 km untuk sistem tersebut
guna meyakinkan penduduk untuk meninggalkan mobil mereka di rumah dan
memanfaatkan tr ansportasi umum. Bus-bus kuno yang berpolusi sudah
sepenuhnya dilarang beroperasi di Hanoi , Singapura, Kualalumpur, dan
Bangkok. Jakarta ? Berkat korupsi dan pejabat pemerintahan yang tak
kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang berkebalikan dengan
kota-kota tersebut.
Mercer Human Resource Consulting, in its reports covering quality of
life, places Jakarta repeatedly on the level of poor African and South
Asian cities, below metropolises like Nairobi and Medellin .
Mercer Human Resource Consulting, dalam
laporannya tentang kualitas hidup, menempatkan Jakarta di posisi setara
dengan kota-kota miskin di Afrika dan Asia Selatan, bahkan dibawah kota
Nairobi dan Medellin
Considering that it is in the league with some of the poorest capitals
of the world, Jakarta is not cheap. According to the Mercer Human
Resource Consulting 2006 Survey, Jakarta ranked as the 48th most
expensive city in the world for expatriate employees, well above Berlin
(72nd), Melbourne (74th) and Washington D.C. (83rd). And if it is
expensive for expa tr iates, how is it for local people with a GDP per
capita below $1,000?
Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota
terburuk di dunia, hidup disana tidaklah murah.Menurut Survey Mercer
Human Resource Consulting tahun 2006, Jakarta menduduki peringkat 48
kota termahal di dunia untuk ekspa tr iat, jauh diatas Berlin
(peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC (83). Nah, kalau untuk
ekspa tr iat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang pendapatan
perkapita DIBAWAH $1000??
Curiously, Jakartans are silent. They have become inured to appalling
air quality just as they have gotten used to the sight of children
begging, even selling themselves at the major intersections; to entire
communities living under elevated highways and in slums on the shores
of canals turned into toxic waste dumps; to the hours-long commutes; to
floods and rats.
Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka
pasrah akan kualitas udara yang jelek, terbiasa dengan pemandangan
pengemis di perempatan jalan, dengan kampung kumuh di bawah jalan
layang dan di pinggir sungai yang kotor dan penuh limbah beracun,
dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dan tikus.
But if there is to be any hope, the truth has to eventually be
told, and the sooner the better. Only a realistic and brutal diagnosis
can lead to treatment and a cure. As painful as the truth can be, it is
always better than self-deceptions and lies. Jakarta has fallen decades
behind capitals in the neighbouring countries in aesthetics, housing,
urban planning, standard of living, quality of life, health, education,
culture, transportation, food quality and hygiene. It has to swallow
its pride and learn from Kuala Lumpur, Singapore, Brisbane and even in
some instances from its poorer neighbours like Port Moresby, Manila and
Hanoi.
Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti
akan terucap, dan semakin cepat semakin baik. Hanya diagnosis kejam dan
realistis yang bisa mengarah pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran,
tetap saja lebih baik ketimbang dusta dan penipuan. Jakarta telah
tertinggal jauh dibelakang ibukota lain negara tetangga dalam hal
estetika, pemukiman, kebudayaan, tr ansportasi, dan kualitas dan
higiene makanan. Sekarang Jakarta telah kehilangan kebanggaan dan mesti
belajar dari Kualalumpur, Singapura, Brisbane, dan bahkan dalam
beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin seperti Port Moresby,
Manila, dan Hanoi.
Comparative statistics have to be transparent and widely available.
Citizens have to learn how to ask questions again, and how to demand
answers and accountability. Only if they understand to what depths
their city has sunk can there be any hope of change. "We have to watch
out," said a concerned Malaysian filmmaker during New Year’s Eve
celebrations in Kuala Lumpur. "Malaysia suddenly has too many problems.
If we are not careful, Kuala Lumpur could end up in 20 or 30 years like
Jakarta!"
Data statistik harus transparan dan tersedia
luas. Warga harus belajar bertanya dan bagaimana untuk memperoleh
jawaban dan akuntabilitas. Hanya kalau mereka memahami seberapa
dalamnya kota mereka telah terperosok, maka barulah ada harapan. "Kita
harus berhati-hati" kata produser film Malaysia dalam perayaan tahun
baru di Kualalumpur. " Malaysia punya banyak masalah. Kalau kita tidak
hati-hati, dalam 20-30 tahun Kualalumpur akan bernasib sama seperti
Jakarta !"
Could this statement be reversed? Can Jakarta find the strength and
solidarity to mobilize in time catch up with Kuala Lumpur? Can decency
overcome greed? Can corruption be eradicated and replaced by
creativity? Can private villas shrink in size and green spaces, public
housing, playgrounds, libraries, schools and hospitals expand?
Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta
menemukan kekuatan dan solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat
menyaingi Kualalumpur? Mampukah kecukupan mengatasi keserakahan?
Dapatkah korupsi diberantas dan diganti dengan kreatifitas? Akankah
ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan hijau, perumahan publik,
taman bermain, perpustakaan, sekolah dan rumah sakit berkembang pesat?
An outsider like me can observe, tell the story and ask questions. Only
the people of Jakarta can offer the answers and solutions.
Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati,
bercerita, dan bertanya. Dan hanya masyarakat Jakarta yang punya
jawaban dan solusinya